Semua keributan, kericuhan, adu mulut saling ejek sampai aksi rasis dan saling baku hantam terjadi di dalam dan luar lapangan yang mengatas namakan sepak bola. Para supporter sepak bola yang fanatik dan bisa di bilang cinta setengah mati dengan tim kesayangan yang dibela dan didukungnya telah menjadi bumbu realitas sebuah hiburan olahraga nomor satu di planet bumi ini.
Ya...bisa dibilang di Indonesia budaya sub-culture hooligan dari tanah Inggris raya sudah menjamur dan berkembang biak di kehidupan para suporter fanatik sepak bola. Inggris dengan titel dan pengakuan sebuah negeri sepak bola modern menjadikan sepak bola sebagai hiburan atau mungkin sudah dianggap sebagai the second religion masyarakat disana. Budaya hooligan yang fanatik dengan tim kesayangannya menjadi momok yang disegani di dalam maupun di luar stadion, aksi anarkis mereka dengan kubu suporter lawan tak bisa dielakan apabila bentrok atau tim kesayangan mereka kalah dalam pertandingan.
Oke, bicara sepak bola di liga Inggris dengan segudang pemain top dan gaji yang besar membuat pasang mata di dunia ini terhibur dengan gaya permainan cepatnya yang biasa disebut kick & rush. Mungkin beda 180 derajat dengan gaya permainan sepak bola di negeri kita tercinta Indonesia, dengan adanya dualisme liga dan carut marutnya kepengurusan asosiasi sepak bola negeri ini membuat kita bingung dan banyak hujan kritik sampai caci maki yang keluar dari para pecinta olahraga spartan ini.
Dari sisi lain kebobrokan itu, suporter sepak bola di Indonesia ga kalah kompak dan kreatif dengan suporter di negeri Inggris sana, dengan animo penonton yang sangat besar Indonesia juga termasuk memiliki suporter fanatik loh. Dengan munculnya budaya hooligan yang diadopsi dari Inggris, ultras dari Italia dan barabravas dari argentina makin menambah ragam sikap fanatisme dari tiap tim.
Bentrok antar suporter tidak terelakan sampai ada nyawa yang melayang karena rasa fanatisme dan harga diri tim yang dibelanya. itulah negara ini, apa mungkin dari nenek moyang saat zaman kerajaan dulu doyan perang dan saling bunuh satu sama lain?hahahaha. Ya semua sikap anarkis, rivalitas yang sangat kental hingga sikap angkuh untuk saling menjadi pemenang lebih ditunjukkan di kalangan suporter ketimbang suatu kualitas permainan yang harusnya lebih ditingkatkan. Itulah sepak bola, olahraga yang paling keras butuh mental baja dan fisik 1000% di lapangan untuk meraih 3 poin, mengangkat sebuah trofi titel juara sisanya adalah uang yang nominalnya sangat besar sebagai imbalannya.
Suporter sepak bola hanya menginginkan kemenangan di setiap pertandingan dan ga lebih dari itu. Untuk masalah rivalitas mungkin itu sebagai bagian dari adrenalin kerasnya olahraga ini, permainan yang keras dan para pendukung yang berjiwa keras membela harga diri tim kesayangannya sampai mempertaruhkan keselamatan nyawanya. Seharusnya pemilik tim tidak memandang sebuah kelompok hooligan, ultras dll. dengan sebelah mata, karena mereka orang-orang itu yang membela mati matian saat harga diri tim jatuh dan siap untuk mengangkatnya kembali dengan kepalan tangan yang mereka miliki. STAND YOU'R GROUND & KEEP YOU'R FAITH!!

Bukannya sub-kulture kita Barrabravas :v
BalasHapus